Tag


Refleksi pengalaman 5 tahun Alnofiandri Dinar di Mesir

Kehadiran Ramadhan selalu dinanti oleh kaum muslimin. Berbagai nama dan sebutan terpuji disematkan kepada Ramadhan. Sebuah bulan yang memiliki banyak keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya. Memang tidak diragukan lagi kebenarannya. Pengakuan ini bersumber dari langit dan lisan Rasul Saw. yang Agung. Banyak rahmat dan berkah yang ada dalam bulan ini. Wajar saja jika penyambutannya tidak tanggung-tanggung, melibatkan keluarga besar, membutuhkan kelapangan jiwa dan mengeluarkan sebagian harta.

Diminggu terakhir bulan Sya’ban, kaum muslimin di Mesir sibuk membuat hiasan yang disebut dengan ajwa’ Ramadhan. Secara harfiyah, ajwa’ Ramadhan berarti suasana Ramadhan. Hiasan ini sengaja dibuat untuk menghidupkan suasana Ramadhan. Ajwa’ Ramadhan dibuat dari kertas warna warni yang digunting dalam berbagai bentuk dan dirangkai dengan seutas tali. Hiasan ini dipasang diantara gedung – gedung perumahan yang terdiri banyak apartemen. Diantara dua gedung kadang-kadang digantung Fanus dalam ukuran besar. Antara Fanus dan gedung – gedung tersebut kemudian dipasang ajwa’ Ramadhan. Di beberapa tempat, terutama diperkotaan, ajwa’ Ramadhan tidak dibuat dari kertas melainkan dari lampu warna warni. Dipasangnya ajwa’ Ramadhan menunjukan bahwa kaum muslimin di Mesir menyambut Ramadhan dengan hati ceria. Ada juga yang menambahkannya dengan poster-poster penyemangat Ramadhan bertuliskan ayat-ayat, hadits, kata-kata hikmah dalam ukuran kecil kemudian dirangkai dengan benang atau tali dan digantungkan. Biasanya ajwa’ Ramadhan dibiarkan tetap tergantung sampai Ramadhan usai.

Sebagian masyarakat mendirikan tenda-tenda dipinggir jalan sebagai stand untuk berjualan makanan, minuman, dan berbagai benda yang menjadi penganan dan hadiah khas Ramadhan. Atau mendirikan tenda sebagai sebuah sarana untuk memberikan kebajikan yang dipersembahkan untuk orang banyak. Minimal satu kali, mereka membersihkan rumah, silaturrahmi dengan handai taulan, memperbaiki perkakas rumah yang sudah mulai rusak, meremajakan sebagian tanaman di taman dan di tambah dengan hiasan lampu Fanus. Dalam catatan kecil ini Alnof akan berusaha untuk menceritakan pesona Ramadhan yang dialami sebagai wujud refleksi pengalaman 5 tahun di Mesir.

Penetapan Awal Ramadhan

Untuk Mesir, Ramadhan 1429 H dimulai pada hari Senin, berdasarkan pengumuman resmi Mufti Republik Arab Mesir, Prof. DR. Ali Jum`ah di Al Azhar Conference Center (ACC) pada hari Sabtu pukul 07.30 P.M. Bahwa untuk Mesir dan sekitarnya tanggal 1 Ramadhan 1429 H jatuh pada hari Senin, 1 September 2008 M. Fatwa ini dikeluarkan karena untuk menentukan awal Ramadhan. Hilal Ramadhan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang karena posisinya yang tertutup, maka disempurnakan Sya`ban menjadi 30 hari berdasarkan hadits Rasul Saw.

Itsbat (penetapan) bulan hijriyyah di Mesir memang agak berbeda dengan Negara kita. Penetapan bulan hijriyyah di Mesir diberikan kewenangan penuh kepada Lembaga Fatwa Mesir yang dipimpin oleh seorang Mufti. Lembaga ini berada di bawah Kementrian Keadilan Mesir. Apabila Lembaga Fatwa Mesir sudah memberikan pengumuman, maka semua masyarakat akan mengikut keputusan lembaga ini. Tidak akan ada lagi fatwa dan keputusan lembaga mana pun sebagai penetapan awal bulan hijriyyah. Kalaupun sempat ada perbedaan pendapat dikalangan ulama di Mesir, biasanya mereka lebih cendrung untuk mengikuti dan menganjurkan umat mengikuti keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga fatwa Mesir. Jadi bisa dikatakan tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan shaum, Idul adha dan Idul fitri.

Mufti akan menetapkan bulan hijriyyah berdasarkan pengamatan mata telanjang terhadap kemunculan hilal (awal kemunculan bulan) dengan tanpa menafikan hisab berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh para astronom (pakar ilmu falak). Kemampuan para astronom dengan berbagai peralatan canggih di abad modern adalah sebuah wasilah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan oleh Rasul Saw. Bahwa Umat muslim memulai dan mengakhiri shaum mereka berdasarkan hilal atau menyempurnakan bilangan Sya`ban menjadi 30 hari, seperti untuk penentuan Ramadhan kali ini. Ketika terjadi perbedaan antara pengamatan mata telanjang dan hasil kajian para astronom, maka akan diadakan sidang penetapan sebelum pengumuman penetapan. Sehingganya keputusan yang diumumkan oleh mufti bisa dipertanggungjawabkan dan dikaji secara syar`i dan secara ilmiah.

Alnof dan Ramadhan 1429 H

Memasuki Ramadhan 1429 H, Alhamdulilah Alnof diberikan nikmat yang banyak. Nikmat yang barangkali sulit untuk didapat di Indonesia. Apalagi Alnof berasal dari kampung dan jauh dari peradaban dunia yang serba maju. Pengalaman-pengalaman ini Alnof yakin dialami juga oleh rata-rata mahasiswa Indonesia yang pernah singgah di Mesir atau didunia Arab secara umum. Setidak-tidaknya selama Ramadhan 1429 H ini, Alnof tidak perlu masak untuk ifthar (berbuka puasa) dan sahur. Itu artinya Alnof bisa lebih berhemat uang saku dan bisa menghemat sedikit energi untuk fokus belajar. Sebab, Alnof harus menghadapai ujian dibulan penuh berkah ini. Semoga hasilnya juga sangat memuaskan.

Menikmati ifthar (perbukaan) dengan menu Mesir bisa sebagai wahana untuk semakin mengenal cita rasa masakan dan minuman masyarakat Mesir. Harus siap mengisi perut tanpa nasi atau nasi yang diolah dengan cara yang berbeda. Saatnya meninggalkan ketergantungkan kepada nasi, karena tidak ada jaminan bahwa Alnof akan selamanya hidup di indonesia. Jika selama ini lidah Alnof masih kental dengan cita rasa masakan Indonesia, sekaranglah saat nya mempertajam lidah untuk semakin teruji dengan masakan berlemak khas Arab. Lidahnya bisa untuk cita rasa Indonesia – Mesir yang tidak mengenal masakan pedas. Dasar orang Padang! Kayaknya nggak makan kalau nggak pakai lado, ya? Orang Mesir bilang, “Kalau nggak bisa makan full (kacang, masakan khas Mesir seperti nasi bagi orang Indonesia), kamu nggak bakal hidup di Mesir.”

Ada tuan rumah atau tetangga yang hampir setiap hari mengantarkan makanan untuk ifthar Alnof. Didalam baki tersedia segelas kolak kurma yang dibuat dengan susu atau dibuat dengan madu. Halawiyat (kue-kue yang manis) atau makarunah (mie yang diolah dengan cabe, tomat dan bawang, mirip membuat mie goreng) sebagai ganti penganan ringan. Syattah (irisan daun sayur yang dicampur dengan tomat, bawang merah, bawang putih, mentimun, tomat, cabe hijau, cabe kering dan diberi sedikit garam) dan nasi dilengkapi bathathis bil lahmah (sambal gulai kentang dengan daging) atau sambal lainnya sering sulit Alnof habiskan, karena porsinya yang lumayan banyak. Maklum, postur tubuh orang Mesir dan kapasitas perut mereka jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kita yang dari timur. Jadi, porsi juga berbeda. Kalau pun mereka lupa mengantarkan hidangan kerumah untuk ifthar Alnof, masih banyak masjid yang menyediakan ifthar jama`I (berbuka bersama) yang gratis dalam jumlah banyak.

Mengintip suasana Ifthar (berbuka puasa) di Mesir

Selama Ramadhan, masyarakat Mesir akan sangat dermawan jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Banyak muhsinin (dermawan) yang menyediakan hidangan ifthar gratis. Orang-orang kaya, banyak yang mendirikan tenda didepan atau dibawah apartemen rumah mereka, dikantor-kantor swasta, ditoko, digudang, dilapangan terbuka, dipinggir jalan, dan berbagai tempat umum lainnya. Tenda-tenda itu berfungsi untuk menyediakan hidangan ifthar gratis bagi siapa saja yang berminat. Masyarakat mesir menamakannya dengan Maidah al Rahman. Ada juga yang sifatnya dalam jumlah kecil dengan menanggung ifthar mahasiswa-mahasiswa yang menyewa rumah mereka atau tetangga mereka, seperti yang Alnof alami.

Diantara mereka bahkan ada yang sengaja mengundang sejumlah mahasiswa ke kantornya dan diminta datang 15-30 menit sebelum waktu ifthar. Sambil menunggu waktu ifthar, para tamu diminta untuk membaca Al-Qur`an dan ditutup dengan do`a bersama saat adzan magrib akan dikumandangkan. Hidangan yang disuguhkan sedikit elegan, bersih, rapi dan terkesan agak mewah bila dibanding dengan ifthar di tempat-tempat lain yang juga gratis. Ketika akan pulang, masing-masing mereka diberi satu mushaf Al-Qur`an. Tidak jarang juga mereka menyediakan uang saku setara dengan nilai Rp 40.000 – Rp 100.000 per orang.

Di Masjid-masjid, sudah pasti menyediakan ifthar gratis. Setidak-tidaknya ada kurma dan minuman untuk ta`jil seperti; karadeih, tamar hindy dan na`na`. Bahkan pemerintah sengaja membuat anggaran untuk subsidi masjid-masjid dalam mengelola Ifthar jama`i. Perbukaan yang sudah lazim ada adalah kurma sebagai ta`jil yang diikuti dengan air putih. Makan berat yang disediakan biasanya adalah nasi dan sambalnya. Dalam teknik pengolahan, nasi mereka memang sedikit berbeda dengan nasi yang dimasak oleh orang Indonesia. Nasi mereka dibuat dengan dicampur miewoon dan diberi sedikit minyak.

Sebagai kawan untuk makan nasi mereka selalu menyediakan daging dan ayam yang diolah dalam bentuk gulai yang berbeda setiap harinya. Bisa dimakan dengan fashuliya (buncis) atau dengan full (kacang-kacangan), mulukhiya (daun sayur yang dibuat cair), bathathis bilahmah (sambil gulai daging dengan kentang), dll. Sudah menjadi kelaziman bagi mereka untuk menyediakan `isy (roti yang dibuat lebar selebar piring nasi, terbuat dari tepung gandum) juga. Bisa dikatakan hidangan yang disediakan adalah makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah.

Ada juga yang menggunakan cara penyajian agak mewah dan praktis, yaitu dengan penyajian cook door (hampir mendekati KFC). Cook door dikemas lebih rapi dan mempunyai standar harga yang agak mahal. Hal ini biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga pengelolaan zakat yang mempunyai dukungan dana dan donatur yang kuat. Seperti yang dilakukan oleh lembaga Zakat Kuwait cabang Kairo. Setiap hari tidak kurang dari 200 porsi cook door mereka bagikan kepada mahasiswa asing di masjid `Ibad al Rahman Seventh District. Mahasiswa-mahasiswa yang berdomisili jauh dari lokasi pembagian pun kadang tergiur untuk menikmati pembagian gratis yang memang agak elegan dan nikmat. Ada juga yang menyediakan dalam bentuk bungkusan yang tidak semewah cook door, dibagikan sebelum ifthar

Berbagai macam cara dilakukan oleh masyarakat Mesir agar bisa mengeluarkan harta mereka dalam bentuk penyediaan ifthar bagi orang lain, terutama para pendatang yang bertujuan untuk belajar. Diantara mereka ada juga yang sengaja memberikan uang belanja kepada para mahasiswa untuk membeli sendiri bahan-bahan yang akan dikonsumsi saat ifthar di bulan Ramadhan. Mereka akan meminta mahasiswa untuk membuat anggaran kebutuhan per hari selama Ramadhan dan menyerahkan uang tunai sebagai realisasi dari budget yang diajukan tersebut. Bagi masyarakat Mesir, dengan berdatangannya para pelajar asing ke negeri mereka untuk belajar adalah sebuah keberkahan tersendiri. Menjadi sebuah kebanggan bagi mereka yang membuat Mesir dengan keberadaan Al- Azharnya sebagai kiblat ilmu-ilmu keislaman di seantero dunia sejak dulu kala

Jalan sore, sekantong tamar hindy dan tursy

Jalan-jalan sore dengan teman sudah menjadi keasyikan tersendiri untuk mengisi detik-detik penantian ifthar yang terasa masih panjang. Jalan-jalan sambil mencari hidangan untuk ta`jil bersama keluarga atau dibawa kekost, sudah menjadi tradisi jamak yang dilakukan oleh kaum muslimin Indonesia. Tradisi jalan sore di Ramadhan ini menjadi sumber rizki baru bagi pedagang makanan dan minuman. Sudah lumrah kita melihat dibeberapa lokasi dan pinggir jalan berdiri tenda dadakan atau juga beberapa gerobak keliling yang kadang menjadi sumber konflik antara pedagang dan petugas satpol PP. “Mengganggu ketertiban kota,” begitu alasan pemerintah.

Bila di Indonesia kita bisa menikmati aneka cita rasa dan beragam jenis makanan, seperti cendol, es buah, es kelapa muda, dan kolak, maka di Mesir suasana ini tidak ditemukan. Sebelum ifthar tidak banyak yang berjualan. Kalau pun ada yang mendirikan tenda-tenda dadakan, atau menggelar sebuah meja dipinggiran jalan, yang dijual hanya minuman segar yang tidak banyak variasi, seperti: tamar hindy (asam jawa yang dibuat manis) dan subyah (minuman ekstrak berwarna putih yang dibuat manis) serta kudapan yang biasa dikenal dengan tursy (asinan yang didiamkan berhari-hari dengan cuka, terdiri dari: timun, bawang, wortel, zaitun, tursy, bawang dan cabe), qathaif dan kunafah (ada sub judul tersendiri). Bila ada gerobak keliling, hanya ada tamar hidy dan subyah, tidak lebih. Atau mereka bisa membeli dikios-kios jus buah dan membeli penganan dikedai-kedai permanen. Sehingga, jalan-jalan sore untuk mencari hidangan untuk ifthar tidak membudaya di Negeri Kinanah ini.

Dulu, waktu ifthar ditandai dengan ledakan meriam

Ramadhan di Cairo memiliki nuansa yang sangat berbeda dengan Ramadhan di Indonesia. Terlebih lagi ketika pemberitahuan waktu berbukanya. Apabila di Indonesia diawali dengan bunyi sirine atau tabuh, maka di Mesir tidak ada sirine ataupun tabuh. Dulu, pernah ada budaya membunyikan Meriam saat mentari tenggelam keperaduannya. Hal ini sebagai tanda masuknya waktu ifthar. Meriam diletuskan tepat pada waktu magrib tiba. Kemudian akan disusul oleh suara adzan yang bersautan dari ratusan menara mesjid di Kai ro. Suasana yang khas pun tercipta menyelimuti kota Cairo. Kebiasaan mengumumkan tibanya saat berbuka puasa dengan ledakan meriam ini dilakukan oleh pemerintahan Mesir sejak abad XVI. Namun saat ini, suara letusan meriam itu tidak terdengar lagi di setiap penjuru Cairo yang telah berubah menjadi kota Metropolitan.

Akan tapi suasana yang khas ini masih dapat dirasakan ketika menyaksikan tayangan di Televisi –upacara peledakan. Hari ini, hanya ada azan Magrib saat sang mentari telah tenggelam diufuk barat. Apabila azan telah dikumandangkan, masyarakat seantero Mesir pun melakukan ta`jil ifthar. Umumnya mereka akan ta`jil sekedarnya dengan kurma, kue-kue manis, air putih, air teh atau jenis minuman lainnya. Sangat berbeda dengan Indonesia yang memiliki kekayaan model kudapan dan penganan yang bisa digunakan untuk ta`jil.

Setelah ta`jil, masyarakat akan berbondong-bondong menuju masjid dan shalat Maghrib berjamaah. Shalat maghrib dilakukan sedikit lebih cepat dibandingkan hari-hari diluar Ramadhan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sengaja menunggu adzan Maghrib di Masjid sambil menggenggam beberapa butir kurma dari rumah. Setelah shalat Maghrib berjamaah, mereka pulang kerumah untuk menikmati santapan makanan berat.

Tidak bisa dipungkiri banyak juga buruh, masyarakat awam dan mereka yang berpendidikan menengah kebawah lebih memilih berbuka dengan makanan berat, baru kemudian menunaikan shalat Maghrib. Bagi si empunya hajatan, hal ini tidak menjadi masalah. Mereka akan menyediakannya selama persediaan masih ada dan akan melayani setiap orang yang datang.

Jangan takut terlantar di jalanan saat ifthar

Tidak berlebihan memang pesan senior Alnof yang akhirnya Alnof rasakan secara langsung sampai saat ini. Semua yang Alnof paparkan dalam tulisan ini umumnya adalah pengalaman pribadi, tetapi satu kisah ini sangat berkesan bagi Alnof. Kejadiannya terjadi diawal kedatangan Alnof di Mesir dan saat itu Alnof mulai merasa putus asa untuk bisa ta`jil ketika adzan berkumandang.

Waktu itu, Alnof kemalaman untuk pulang kerumah dan Alnof belum paham dengan ifthar jama`i yang diadakan oleh masyarakat. Setelah menyelesaikan keperluan di organisasi kedaerahan mahasiswa minang yang ada di Mesir (KMM) yang bersekretariat di tenth district, Alnof kembali ke rumah di seventh district yang berjarak sekitar 5 km dari sekretariat. Alnof berdiri dipinggir jalan untuk menunggu angkutan yang akan membawa Alnof pulang. Sudah sepuluh menit menunggu, waktu terus bergulir dan saat ifthar sudah semakin dekat, sementara ditangan tidak ada sesuatupun untuk ta`jil, Alnof mulai gelisah.

Saya mau ifthar dimana? Mau jalan kaki kerumah tidak mungkin. Balik ke sekretariat? Sudah terlanjur pamit dan Alnof belum terlalu kenal dengan penghuni sekretariat. Ada perseteruan ego dan rasa butuh ketika itu. Alnof semakin gundah. Mau ngomong dengan orang Mesir, nanyain cara ke rumah yang paling cepat juga nggak berani. Belum bisa bahasa amiyyah Mesir. Pakai bahasa arab fushah, orang Mesir ngerti nggak, ya? Duh, ngapain kuliah sampai ke Mesir segala sih! Tuh rasain! Berbagai pikiran berseliweran dibenak Alnof. Hanya satu pikiran rasional yang ada, semoga ada mobil pribadi yang sudi menumpangkan Alnof.

Jalan raya memang sibuk dengan berbagai jenis mobil mewah yang kejar-kejaran dengan waktu untuk bisa ifthar dirumah masing-masing. Tetapi tidak ada mobil tambang lagi, karena sudah kembali kerumah masing-masing lebih awal untuk persiapan ifthar bersama keluarga.

Saat tiga menit adzan Magrib akan berkumandang, tiba-tiba Alnof dikagetkan oleh sebuah mobil Toyota keluaran terbaru yang melaju sangat kencang didepan Alnof. Setelah melewati Alnof sejauh kira-kira 100 m, tiba-tiba mobil tadi berhenti dan track dengan sangat kencang kearah Alnof. Ketika sampai didepan Alnof, sang sopir dengan senyum segaris di bibir membukakan pintu mobil dan meminta Alnof untuk naik ke mobilnya. Alnof awalnya tidak yakin dan berprasangka yang negatif. Dengan tanpa bersuara Alnof hanya tertegun dan mencoba mencari keyakinan untuk memenuhi permintaan sang sopir yang macho dan smart itu. Alnof merasa ragu karena banyaknya pemberitaan tentang penipuan di Indonesia. Maklum masih berparadigma ke-Indonesiaan. Ternyata tidak semua negara sama dengan Indonesia.

Sang Sopir menangkap keraguan Alnof yang masih sangat lugu. Sang sopir kembali menawarkan dengan diplomasi lebih simpatik dan senyuman yang semakin menawan. “Yalla, tafadhal ya akhi? Hataftir fein? Mafisy haga hena wallahi! Ma takhafsy, ya habiy! Yalla sur`ah, ma endanasy wa`t, al wa`t dhayi` kholash.” (Yuk, silahkan akhi, mau ifthar dimana ? Disini nggak ada apa-apa! Jangan takut kawan! Yuk, cepat sedikit, kita nggak punya banyak waktu lho. Waktu kita sangat kasip sekali.) Waktu itu sih nggak paham, nyambungnya sedikit saja, tapi pura-pura ngerti. Kalimat tadi dihafal-hafal dan sampai dirumah tanyain ke senior. Makanya, kalau lagi jadwal muhadatsah pagi Ahad jangan malas untuk ngobrol pake bahasa arab! Jadi rindu pesantren….

Dengan setengah percaya, akhirnya Alnof naik dan duduk disampingnya. Diatas mobil, sopir yang masih muda, putih dan ganteng ini tidak banyak bertanya. Hanya menanyakan nama dan dari mana asal serta akan bertujuan kemana? Secara kebetulan memang kita searah, karena sang sopir sedang menuju Roxy yang bisa ditempuh melewati seventh district. Alnof hanya menjawab dengan ringkas setiap pertanyan yang diajukan, maklum kurang ngerti juga. He…he…he…. Singkatnya, dialog yang terjadi diantara kami tidak terlalu hangat karena Alnof melihat sang sopir juga sedang asyik berkomat-kamit dengan zikir yang dilantunkannya sejak awal tadi.

Saat baru melanjutkan perjalanan, adzan Magrib berkumandang, dengan sigap sang sopir menyerahkan kepada Alnof beberapa butir kurma dan sebuah minuman kaleng untuk ta`jil. “Tafadhal!” (silahkan!) tawarnya simpatik. Alnof semakin kaget sekaligus kagum dengan sikapnya yang telah mencuri hati Alnof. Setelah itu dia mengeluarkan satu paket makanan yang memang sudah dibelinya beberapa paket. Ketika Alnof tanya, “Ini untuk siapa sisanya? Untuk keluarga?” Dengan enteng dia menjawab, “Itu saya beli sengaja mau dibagi dengan orang-orang yang kemalamam di jalanan saat ifthar.” “Masih ada orang berhati malaikat seperti ini, ya?” pikir Alnof yang memang belum paham dengan sosial budaya orang Mesir. Dengan suasana agak relax dan mulai hangat kami menikmati ifthar bareng diatas mobil mewahnya yang baru seminggu keluar dialler. Mobil pun melaju agak pelan sampai akhirnya Alnof turun di seventh district.

Meraup mardhatillah di malam Ramadhan dengan tarawih tanpa perdebatan

Di Mesir shalat tarawih dilaksanakan dengan 8 raka’at dan 20 raka’at plus witir 3 raka’at. Atau memadukan kedua bilangan, setelah menyelesaikan 8 rakaat, sebagian jamaah meninggalkan masjid atau shalat witir sendirian di masjid. Tidak sedikit yang lebih memilih untuk shalat witir dirumah masing-masing. Jama’ah yang masih tertinggal di masjid melanjutkan shalat tarawih bersama imam menjadi 20 raka’at. Umumnya masyarakat melaksanakan tarawih dengan jumlah bilangan 8 raka’at dan salam pada setiap 2 raka’at. Tidak ada perdebatan panjang seperti perdebatan warga nahdiyyin dan Muhammadiyyah, atau yang lainnya. Jama’ah bebas memilih sesuai dengan yang mereka yakini. Memang kedewasaan dalam beragama di Mesir jauh lebih baik dibanding umat muslim di Indonesia. Masalah khilafiyyah tidak lagi menjadi sumber perdebatan dan perpecahan umat, kalaupun ada itu pun biasanya datang dari kelompok Wahaby atau yang mendakwa diri sebagai salafy. Dengan sokongan dana yang kuat dari negara Saudi Arabia dan negara-negara Teluk, keberadaan meraka akhir-akhir ini memang semakin subur di Mesir dan berbagai Negara muslim lainnya.

Jika kita menelisik sejarah kemunculan Wahaby (salafy), maka mereka lahir dari bi`ah badawiyah (lingkungan baduwy) di Negeri Nejd. Negeri yang bukan merupakan pusat peradaban dan kebudayaan. Wajar saja jika mereka bertindak dan bersikap kolot terhadap umat islam. Dakwah yang dikembangkan masih kental dengan kejumudan dan doktrinisasi. Berbeda halnya dengan mereka yang belajar di Al- Azhar, yang belajar ala mazhab untuk mengenal metode ulama dalam memahami Kitab dan Sunnah tanpa harus didoktrin oleh ijtihad dan pemikiran ulama. Semua kita adalah salafy dalam urusan agama. Karena untuk urusan agama tidak ada lagi yang perlu diperbaharui, sudah sempurna sampai saat wafatnya Rasulullah Saw. Umat islam harus mejaga kesalafan agamanya, tetapi untuk urusan dunia harus terus berkembang dan menuju kemajuan. Jangan dipaksakan untuk salafy dalam dua dimensi ini, karena hidup ala manhaj Rasul Saw dan sahabat tidak berarti kita harus kembali hidup di zaman mereka.

Jangan sampai salah dalam memahami dan menterjemahkan sejarah dalam konteks kekinian. Harus ada keinsyafan dan kritis dalam memahami serta interprestasi sejarah. Satu hal yang perlu disadari, keberadaanan kaum Wahaby perlu disyukuri oleh umat, yang telah berupaya banyak untuk membersihkan bid`ah, khurafat dan hal-hal yang merusak akidah. Bila anda ingin mengupas lebih luas tentang Wahaby telaah lah kembali karangan Muhammad Abduh tentang Wahabiyah dan buku Prof. DR. Imarah tentang biografi Ibnu Taimiyah yang membuat terkesima warga Arab Saudi yang tersadar dengan biografi tokoh yang mereka idolakan.

Begitu adzan Isya berkumandang, masyarakat berduyun-duyun menuju masjid. Setelah shalat Isya dilaksanakan secara berjama’ah dan shalat sunnah ba’diyah Isya, shalat tarawih segera dilaksanakan. Para imam tidak membuang waktu banyak untuk menunggu jama’ah dan kegiatan lain yang seperti yang kerap dilakukan di masjid-masjid di Indonesia, seperti pengumpulan infak, shadaqah, pengumuman pembangunan masjid, dsb. Pemberian ceramah sebagai siraman rohani dilakukan setelah shalat 4 raka’at bagi mereka yang tarawih 8 raka’at atau setelah menyelesaikan 10 raka’at bagi mereka yang shalat tarawih 20 raka’at. Diraka’at terakhir witir, umumnya mereka tutup dengan do`a qunut pada setiap malam selama Ramadhan. Beda hal nya dengan mereka yang menganut mazhab Syafi’i, yang membaca do`a qunut hanya pada 15 malam terakhir Ramadhan.

Penyampaian materi biasanya diberikan oleh para Professor Doktor atau para Syaikh yang memang sudah mapan dalam keilmuan syar`inya, paling minimal sekali disampaikan oleh imam masjid yang ditentukan oleh kementrian wakaf atau badan pengelola masjid yang tidak berada dibawah kementrian wakaf. Bukan hanya mereka yang sekedar kaya gelar dan suka nyeleneh atau ngeyel. Bahkan ada masjid yang menjadikan satu kitab hadits sebagai standar ceramah yang akan dibaca bersambung setiap malam Ramadhan dan akan dilanjutkan pada Ramadhan berikutnya seandainya kitab tersebut belum bisa ditamatkan. Seperti di masjid Asyraf yang diimami oleh Dr. Yusri al- Husainy, saat menyelesaikan 10 rakaat pertama, beliau membaca dan menjelaskan kitab hadits yang berjudul bahjah al- nufus karangan Ibnu Jamrah. Di masjid ini, shalat tarawih bisa menamatkan 3 juz per malamnya. Jadi 10 hari pertama sudah khatam Al-Qur`an satu kali.

Di masjid-masjid yang ada di Mesir, rata-rata imam shalat tarawih menamatkan satu juz Al-Qur`an per malam. Para imam rata-rata telah hafidz (hafal Al-Qur`an) sejak kecilnya. Tapi, tidak jarang juga sebagian masjid yang mengharuskan imam untuk melihat mushaf yang didesign dengan ukuran besar yang biasa dikenal juga oleh masyarakat dengan `mushaf tahajjud`, meskipun imam sudah hafidz. Tidak heran bila shalat tarawih disini bisa menghabiskan waktu rata-rata 1,5 jam. Karena interval waktu yang agak lama dan banyaknya jama’ah yang shalat maka masjid-masjid biasanya menyediakan kipas angin dan AC dalam jumlah yang mencukupi serta kondusif untuk jumlah jama’ah yang banyak. Sehingga, akan terasa kenyamanan dan lebih leluasa menikmati indahnya tarawih. Meskipun dihari-hari biasa dimusim panas masjid-masjid sudah menyediakan kipas angin ataupun AC. Sebelum Ramadhan menjelang, semua peralatan yang rusak sengaja di perbaiki.

Sempatkanlah untuk menikmati indahnya Ramadhan di Masjid Al -Azhar

Di Masjid Al- Azhar, tempat Alnof biasa shalat, tarawih dilaksanakan 20 raka’at. Ada hal menarik yang baru Alnof temukan dimasjid yang menjadi kiblat keilmuan islam sejak zaman dahulu kala ini, bacaan yang digunakan imam dalam shalat tarawih adalah qira`ah sab`ah. Sehingganya para jama’ah akan dibuat menikmati nuansa yang berbeda dari masjid yang lain. Akan ada ilmu baru saat mendengarkan imam membaca sebuah kalimat dengan cara yang berbeda dari cara dia biasa membaca. Akan terasa menggelitik ketika dibacakan qira`ah Warasy, Ibnu Amir, dll.

Bagi orang awam atau mereka yang tidak pernah mengenal qira’ah, akan mengira bahwa imam tidak pandai membaca Al-Qur`an. Kok orang bodoh dijadikan imam oleh makmum yang berjumlah 3000-an orang ini? Wong edan…! Barangkali itu yang ada dalam benak mereka. Anda bisa bayangkan saat imam baca waddhuha fathah diakhir kalimat dibaca dengan e (waddhuhee) atau membaca sukun harakat dhammah (`alaihim jadi `alaihimu)atau juga mengidghamkan huruf yang hidup ketika bertemu dengan huruf yang hidup, seperti qila lahum jadi qil lahum (berbeda dengan idgham mutamatsilain yang biasa kita pelajari). Shalat Tarawih yang digelar di masjid Al- Azhar mengikut mazhab Syafi`I seperti yang umum dianut oleh umat muslim di Indonesia. Meskipun di masjid Al- Azhar diajarkan seluruh mazhab fiqh yang empat, tetapi masjid Al- Azhar mengikuti mazhab Syafi`i dalam praktek pelaksanaan masalah furu`.

Suasana tarawih akan lebih terkesan ketika anda mencoba shalat tarawih dipelataran bagian dalam masjid Al- Azhar yang beratap terbuka. Shalat dipelataran ini akan membuat anda seolah berada di masjid Nabawi yang beratap terbuka. Terpaan angin malam yang berhembus menerpa wajah menjadikan kenyamanan tersendiri bagi jama’ah. Bagaimana tidak? Shalat yang kadang harus diselesaikan dalam waktu 2 jam akan mendatangkan kepenatan dan kegerahan bagi jama’ah, apalagi yang jarang shalat malam diluar bulan Ramadhan. Saat anda letih dan ingin istirahat, anda akan bisa tidur-tiduran sambil memandangi langit yang kelam (menghitung bintang kali ya?) dan bisa juga mengamati kaligrafi kuno di sekeliling masjid serta menara-menara masjid Al Azhar yang memiliki khas tersendiri. Ada hiburan tersendiri saat anda menikmati canda tawa sikecil yang diajak serta oleh orang tua mereka untuk shalat tarawih dibelakang shaf jamaah tanpa kegaduhan .

Iza`at Al Qur`an al Karim, sebuah stasiun radio yang selalu menyiarkan langsung shalat tarawih selama Ramadhan dari masjid ke masjid akan mendatangi masjid Al- Azhar sebagai masjid pertama dan akan disusul oleh masjid-masjid yang lain. Wajar memang, karena masjid ini adalah kiblat keilmuan dan sebagai sentra keilmuan islam klasik dari dulu sampai sekarang. Sudah lumrah bila penghargaan ini diterima oleh Al- Azhar setiap Ramadhan bahkan setiap bulan-bulan yang menyimpan hari-hari besar islam, seperti Rabi` al Awwal yang menyiarkan sebulan penuh kajian sirah Rasul Saw dan perayaan peringatan maulid Nabi.

Pada hari-hari biasanya memang tidak banyak wanita yang ikut shalat jama’ah di masjid. Berbeda halnya dengan di Indonesia, justru jama’ah wanita jauh lebih banyak dibanding jama’ah laki-laki. Masjid-masjid di Arab umumnya menyediakan lantai mezzanine khusus untuk jama’ah wanita atau menyediakan sebuah ruangan khusus didalam masjid yang dibatasi dengan hijab dari tempat jama’ah laki-laki. Dimasjid Al- Azhar, para jamaah wanita juga disediakan ruang khusus di Ruwaq `abbasy yang sehari-hari berfungsi sebagai ruang shalat dan sentra kegiatan jama’ah wanita. Dibulan Ramadhan ditambah lagi satu ruang dibagian belakang masjid Al- Azhar yang dekat dengan arah tempat berwudhu`. Ruang ini dilengkapi dengan monitor yang merekam langsung imam shalat yang berada diruang yang beda.

Saat anda memasuki masjid Al- Azhar, anda akan mendapati beberapa botol air mineral yang sudah didinginkan di kulkas dan sengaja di letakkan didepan shaf-shaf shalat oleh badan ta`mir masjid. Ketika shalat tarawih dan ceramah Ramadhan berlangsung, akan ada saja beberapa anak muda yang berkeliling diantara para jama’ah untuk memungut botol air mineral yang sudah kosong untuk diisi kembali dengan air putih yang telah didinginkan dan disebar kembali disela-sela shaf jama’ah. Ada satu kelebihan baru yang dimiliki oleh masjid Al- Azhar belakangan ini. Dibagian dinding masjid yang berada disebelah kanan arah kiblat, disediakan sebuah rak yang menyimpan buku-buku tentang islam dalam berbagai bahasa, seperti; Urdu, Perancis, Mandarin, Rusia, Denmark, Parsi, Inggris, dsb. Para tourist lebih leluasa untuk memilih buku yang diminatinya dan dalam bahasa yang dipahami oleh mereka.

Menghirup udara segar dan bernostalgia sejarah –Shalat subuh di masjid Al- Azhar

Sebagain besar masyarakat Indonesia lebih memilih untuk kembali tidur atau shalat subuh dirumah setelah mereka menyantap hidangan sahur. Tak heran bila sebagian mereka kebablasan tidur dalam shalat subuh. Beda halnya dengan di Mesir, setelah sahur kaum muslimin bersiap-siap dan berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat subuh berjama’ah. Tidak heran bila anda akan melihat jama’ah yang hadir untuk shalat dimasjid Al- Azhar tidak jauh beda dengan jumlah mereka yang hadir saat shalat tarawih. Terlebih subuh hari jum`at, suasana akan sangat ramai sekali seolah masih dalam suasana malam untuk shalat tarawih.

Tua-muda, laki-laki dan perempuan datang berharap bisa mengikuti shalat berjama’ah bersama imam dan mengaminkan do`a qunut yang dilantunkan agak panjang oleh imam masjid Al –Azhar, dan memperbanyak sujud dengan sujud tilawah (sujud sajadah). Setelah subuh, diantara mereka ada yang menikmati pagi yang indah dengan dzikir sampai datangnya syuruq (waktu mentari terbit), lima belas menit kemudian shalat dhuha dan kembali kerumah mereka untuk beraktifitas. Tak sedikit juga anak muda-muda yang memilih untuk menjadi foto model dadakan dengan kamera digital atau kamera yang ada di HP mereka.

Masjid Al- Azhar yang kaya nilai sejarah dan dipenuhi oleh berbagai maha karya generasi muslim dahulu yang tertuang dalam bentuk kaligrafi di sekeliling dinding masjid menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk diabadikan. Nilai seni dan sejarah menara masjid Al- Azhar yang memang khas menjadi bidikan mereka sebagai background. Si kecil yang masih balita pun ikut meramaikan suasana pagi yang penuh vitalitas itu, ada yang sudah mahir bergaya, ada juga yang terkesan dipaksa bergaya oleh orang tuanya karena mereka lebih memilih mengikuti dunia mereka yang senang bermain dan bermain bersama kawan-kawan yang ketemu di masjid.

Kenyataan umat islam yang memilukan –kehadiran jama’ah Syi`ah di Masjid

Pemandangan lain yang akan anda dapati di waktu subuh di masjid tua ini adalah kedatangan segerombolan orang yang tergabung kedalam salah satu sekte Syi`ah yang biasa melaksanakan `shalat subuh bersama` dimasjid Al- Azhar. Hanya saja waktu dan cara pelaksanaan mereka beda dengan mayoritas umat. Mereka shalat subuh setelah jamaah masjid Al Azhar selesai shalat subuh dan menuntaskan dzikir mereka. Jama’ah Syi`ah datang berbondong-bondong dari penginapan mereka dengan mobil pribadi dan mobil sewaan yang elit yang diparkir disepanjang jalan bagian depan masjid Al- Azhar. Begitu sampai dimasjid Al- Azhar, mereka akan membentangkan kain semacam sajadah sebagai alas tempat mereka shalat yang memiliki khas tersendiri. Jangan pernah anda berharap kaum Syi`ah ini akan mau shalat diatas bekas shalat kaum muslimin, mesti ada alas yang mereka bawa sendiri. Barangkali bekas kaum muslimin yang lain adalah najis dalam keyakinan mereka.

Kaum Syiah memang menjadi sebuah fenomena memilukan umat islam. Bagaimana tidak? Para sahabat mulia dan istri rasul menjadi hinaan dan kemarahan mereka. Mereka menganggap tokoh-tokoh ini jauh lebih hina dari seekor anjing. Na`uzubillah! Sudah banyak upaya dialog yang dilakukan oleh para ulama dan pemikir islam untuk mencari titik temu dan kesepahaman dalam menciptakan kesatuan pemikiran untuk memahami dan menjalankan islam. Upaya ini selalu saja menemui jalan buntu, karena kaum Syiah tidak mau membuka diri dan mau beribadah mengikuti kaum ahlusunnah. Disisi lain kaum ahlusunnah yang berjumlah tidak kurang dari 90 % jumlah umat islam, jauh lebih terbuka dan lebih dewasa dalam memahami dan melaksanakan islam. Kaum muslimin mempelajari fiqh dan ijtihad ulama-ulama islam yang ada di luar ahlussunnah. Di Mesir misalnya, dipelajari 4 mazhab kaum ahlusunnah, seperti: Maliky, Hanafy, Syafi’i dan Hambali serta 4 mazhab non ahlusunnah, seperti: Ibadiy, Zaidy, imamiyah Itsna `Asyriah dan Zhahiry

Kaum Syi’ah yang umumnya datang dari India ini `shalat bersama` dibawah pimpinan seorang imam. Sang imam tidak membaca dengan suara nyaring sehingga bisa didengar oleh semua jamaah. Tidak ada pula “Amin” yang dibaca nyaring secara jama’ah. Jama’ah seolah-olah shalat sendirian, karena banyak diantara mereka yang kembali dari sujud sebelum imam mengangkat kepala dari sujudnya. Begitu juga dalam gerakan shalat yang lain. Tapi mereka bersusun layaknya kaum muslimin sedang shalat berjama’ah dan gerakan shalat mereka bisa serentak. Qunut mereka juga dilaksanakan sebelum pelaksanaan rukuk dan tidak ada i`tidal setelah ruku`. Jumlah peserta `shalat bersama` ini juga tidak sedikit, diperkirakan jumlah mereka mencapai angka 200-an orang. Mereka selalu memilih mihrab fathimy sebagai peribadatan khusus mereka, tidak pernah dipindah ketempat lain. Jangan merasa aneh apabila banyak keganjilan dan perbedaan yang anda temukan pada sekelompok kaum Syi’ah.

Tidur pagi dan asmara subuh –penyakit kronis umat islam

Jalan pagi kepantai atau ditaman dan berbagai tempat lainnya setelah menunaikan shalat subuh berjamaah dimasjid sudah menjadi sebuah tradisi yang berjalan alami di Indonesia. Ada yang berjalan bersama kawan sejenis atau pun lawan jenis, kalau lebih diamati tidak sedikit yang berjalan bersama non mahram, layaknya suami istri sedang mengulang kisah- kasih diwaktu muda. Wajar saja masyarakat menyebutnya sebagai acara “asmara subuh”. Tak berlebihan memang!

Di satu sisi jalan pagi ini akan menjadi sebuah budaya yang baik apabila menjaga tradisi islami, karena jalan pagi ini berpengaruh terhadap kesehatan, selain keberkahan yang banyak. Salah satu do`a Nabi Muhammad adalah “Ya Allah berkahi lah umat Muhammad dikala paginya”. Orang-orang yang bangun dan memanfaatkan waktu paginya dengan dzikir dan tilawah akan meraih do`a Rasul Saw ini. Disisi lain, fenomena asmara subuh ini akan menjadi boomerang waktu yang berpotensi menghilangkan akhlak putra-putri terbaik bangsa ini dan Ramadhan tidak lagi menemukan momennya sebagi madrasah perbaikan. Mungkin ini juga hikmahnya tidak ada asmara subuh di Mesir.

Anda jangan berharap akan menikmati indahnya alam mesir dipagi hari dengan keramaian asmara subuh. Justru kebalikannya. Semua masyarakat Mesir seolah telah tiada. Pagi hari akan terasa sangat sepi seolah kota mati yang ditinggalkan oleh penghuninya. Rumah-rumah tertutup rapat, toko-toko masih terkunci, warung makanan masih banyak yang baru akan memulai usaha mereka. Anda tidak akan menemukan kemacetan apabila melewati jalan-jalan utama sampai pukul 8 pagi. Terlebih dimusim panas dan bulan Ramadhan. Jangan anda bayangkan suasana sesibuk pasar tanah abang dan kesibukan tukang sayur dengan sayur hijau yang segar dipasar tradisional. Jangan berharap mengadakan pertemuan, membuat janji dan mengunjungi sahabat anda dikala pagi. Sebaiknya hubungilah orang yang dituju via telepon sebelum anda berkunjung.

Dengan kondisi yang sangat kontradiktif dengan Negara-negara maju ini, jumlah penduduk seolah menurun dratis dari angka sensus. Karena mereka asyik mendengkur diatas kasur. Jadi, jangan sampai buat kegaduhan atau kegiatan yang membuat ribut pada pagi hari, kalau anda tidak ingin disemprot orang Mesir dengan kultum gratis yang membuat telinga panas. Salah satu pameo yang sering menjadi kelakar masyarakat adalah ”Seandainya Israel menyerang Mesir dikala pagi, pasti akan memenangkan peperangan”. Budaya tidur pagi ini seolah sudah mengakar di masyarakat Mesir.

Mereka pada malam hari lebih suka begadang bersama keluarga di apartemen, balkon flat mereka, bahkan ditaman-taman sampai larut tengah malam, apalagi dimusim panas. Mereka menggelar tikar ditempat terbuka yang umumnya taman-taman dengan membawa makanan dan sebuah tape recorder. Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan, bercerita dan melihat sikecil bercanda dan berlari kegirangan. Sambil makan, mereka menikmati alunan musik Mesir yang sering diputar oleh masyarakat dan kerap membuat bosan dan mengganggu kenyamanan telinga para pendatang. Seolah warna musik di Mesir hanya ada satu. Suasana ini juga kerap terjadi di malam-malam bulan Ramadhan.

Seolah waktu dibalikkan oleh orang Mesir, siang telah berubah menjadi malam. Dan situasi ini juga menular kepada para pendatang, apalagi bagi mereka yang sudah lama berdomisili di Mesir. Parahnya penyakit ini dibawa pulang oleh para lulusan sekolah dan universitas yang ada di Mesir. Bukan hanya asmara subuh yang tidak ada, tapi juga tidak ada lari pagi (jogging) dihari Ahad atau dihari-hari libur, tidak ada senam pagi dan olahraga lainnya. GOR dan club-club olahraga akan mulai penuh sejak sore sampai larut malam. Wajar saja jika orang Mesir banyak yang berbadan melar, terutama yang sudah berkeluarga.

Wanita Mesir saat gadis begitu cantik dan berbadan ramping, tapi setelah menikah, semuanya bisa berubah drastis. Mereka malas menggerakkan badan dan banyak mengkonsumsi makanan yang berlemak. Konon, badan mereka yang gemuk itu sebagai simbol kesejahteraan bagi para istri. Inilah kenyataan masyarakat yang bisa kita kategorikan sebagai masyarakat pemalas dan tidak siap bersaing. Penyakit negara ‘dunia ketiga’ yang sudah kronis dan sekaligus menjadi sebuah icon untuk negara-negara arab dan negara islam.

Musahharati (مسحراتى) –akar budaya yang mulai punah

Bila di Indonesia ada kegandrungan sekelompok anak muda untuk berkeliling kampung membangunkan masyarakat yang berpuasa, di Mesir suasana ini juga sudah ada sejak dulu. Ada perbedaan yang mendasar dengan pelaksaanan yang berkembang di masyarakat Indonesia yang sangat sederhana dalam pelaksanaannya, hanya dengan gentong dan rebana. Di Mesir ada akar dan karakteristik budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam membangunkan masyarakat untuk sahur. Identitas budaya pendahulu mereka ini menjadi profesi tersendiri bagi tokohnya. Orang yang bertugas membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur dikenal dengan Musahharati (مسحراتى). Musahharati biasanya membawa drum yang disebut dengan al-Bazah ditangan kirinya. Sedang tangan kanannya menggenggam pemukul yang terbuat dari kulit atau kayu. Al-Bazah adalah drum yang memiliki satu sisi, terbuat dari kulit. Punggungnya terbuat dari tembaga berbentuk silinder. Kadang al-Bazah disebut juga dengan thablatul musahhir (Drum orang yang membangunkan sahur). Al-Bazah yang memiliki ukuran besar disebut dengan thablah gamal.

Sumber–sumber sejarah menunjukan bahwa musahharati dan seni membangunkan orang untuk makan sahur mendapat tempat istemewa di hati umat Islam Mesir. Pada pertengahan pertama abad XIX, seni ini mencapai puncak perkembangannya. Pada waktu itu, setiap sudut dan bagian terkecil kota Kairo memiliki musahharati. Kedudukan yang dimiliki oleh musahharati saat itu tidak lebih rendah dari kedudukan penyanyi pada masa sekarang. Hanya orang–orang yang memiliki suara merdu yang bisa bekerja sebagai musahharatiMusahharati biasanya mulai berkeliling dua jam setelah matahari terbenam atau tepat setelah shalat Isya. Sambil berkeliling, musahharati memukul drumnya, setiap saat sebanyak tiga kali.

Di depan setiap rumah, kecuali rumah orang miskin dan orang yang sedang berduka cita musahharati berhenti. Setelah memukul drumnya tiga kali musahharati berdendang : ” ‘azza man yaqulu la ilaha illallah “(mulialah orang yang mengucapkan la ilaha illallah). Kemudian ia memukul drumnya tiga kali, lalu berkata : ” As’ada layalika ya fulan “(semoga malam–malammu berbahagia, wahai fulan) sambil menyebut nama pemilik rumah. Kemudian dia menyebut saudara – saudara pemilik rumah itu, anak – anak laki – lakinya dan anak perempuannya yang tertua, dan terakhir dia berkata : ” As’ada layali ila siti al-Arayisy fulanah “(malam – malam bahagia buat nyonya fulanah). Setelah menyebut nama – nama seisi rumah, kemudian musahharati berkata : “Semoga Allah menerima sholat, puasa dan kebaikan mereka. ” Sebagai penutup dia berkata : ” Allah yahfazhuka, ya karim, kulla ‘am ” (Semoga Allah melindungimu, wahai yang mulia, sepanjang tahun). Pada saat–saat tertentu, terutama didepan rumah para pembesar, setelah berkata  ” ‘azza man yaqulu la ilaha illallah “, musahharati mendendangkan sebuah lagu bersajak yang panjang, dimulai dengan istighfar dan shalawat, kemudian dilanjutkan dengan cerita mi’raj dan cerita mukjizat lainnya. Musahharati memukul drumnya tiga kali setiap selesai satu bait.

Lagu–lagu musahharati juga terdiri dari cerita rakyat, meskipun cerita–cerita keagamaan lebih mendominasi. Kadang musahharati tidak berkeliling sendiri, tapi ditemani oleh pemukul drum atau peniup terompet. Kadang mereka diikuti oleh segerombolan anak kecil yang senang hura-hura sampai mereka merasa keletihan. Musahharati saat ini hanya tinggal drum dan panggilan untuk bangun menyempatkan diri bersahur, tidak ada lagi nyanyian, romantika rakyat dalam sya`ir, rentetan kisah, pujian, dan do`a. Sekitar setengah jam sebelum waktu imsak tiba, dari arah Salahuddin Citadel (Benteng Salahuddin) di jabal Muqattam (gunung muqattam) akan terdengar suara meriam sebagai peringatan agar kaum muslimin segera menyelesaikan makan sahurnya. Seiring bergulirnya waktu, suara meriam ini juga tidak lagi kedengaran. Inilah kenyataan bahwa akar budaya telah tercabut dari kebiasaan rakyat. Berikut dilampirkan sebagian lafal yang digunakan untuk membangunkan masyarakat saat sahur dengan lahjah` amiyyah Mesir:

اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كريم
ادينا جينا بدري ياله قومو اجرو
دا رمضان بيجري ويابخته بيه
اللي يلاقيه رمضان كريم
اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كريم
********************
اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كرييييييييييييم
اصحي يانور وحضري السحور واياكي تنامي لحد الفطور
وانتي ياام احمد دينا جينا ووعلي بابك عدينا في سحور
ولا هتبخلي علينا ده رمضان كرييييييييييييييييييييييم
وانتي يالولي اصحي وقومي وصحي بوكي
اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كرييييييييييييييييييييييم
****************************
اصحي يازهرااااااء ده النهرضه يومك والكل فرحان
عيد ميلادك احلا عيد يوم مولدك كان احلا عيد
فرح الاهل وخلا الكل سعيد
خشي وتعالي دول اصحابك عملين لك احلا عيد
ومي مؤمن عملاك هيصه وزيطه ومعلقه البلالاين
ومجمع كل الاحبه وبيكي فرحانين
اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كريييييييييييييييم
*************************
اصحي ياحمادو وصحي اماك وصحي صلادينو معاك
اصحي يانديم وهتلنا من اشعارك نكتب ونصحي النيمين
اصحي ياندي الايام اصحي وصحيحي وصحي ابو منار
اصحي يانايم وحد الدايم رمضان كريمممممممممممممممم

Gemerlap Fanus dimalam hari dan Kendi-kendi air yang berjamuran saat Ramadhan

Adalah suatu kemestian bagi setiap masjid untuk menyediakan dispenser dan galon-galon yang selalu berisi air agar bisa diminum oleh jama’ah kapan saja. Memasuki Ramadhan, jumlah galon-galon itu ditambah dan diatur dibeberapa titik strategis sesuai dengan posisi jama’ah. Suatu hal yang lumrah ketika jama’ah mendapati beberapa botol air mineral yang sengaja diletakkan didepan shaf-shaf shalat oleh badan ta`mir masjid. Atau anda akan mendapati beberapa anak muda yang berkeliling diantara para jama’ah dengan membawa beberapa botol air mineral serta gelas dan menawarkan jamaah untuk minum air putih saat ceramah Ramadhan dilakukan.

Penyediaan air juga berlaku diluar masjid. Dewasa ini, banyak masyarakat yang sengaja menyediakan galon dipinggir jalan dan sekaligus gelas minumnya. Sejak dari zaman nenek moyang mereka, masyarakat Mesir menyediakan air di dalam kendi-kendi dengan berbagai ukuran yang terbuat dari tanah liat. Kendi-kendi itu disimpan dipinggir jalan dan bisa diminum kapan saja dan oleh siapa saja. Di bulan Ramadhan keberadaannya juga menjamur bak cendawan dimusim hujan. Tak jarang mereka sengaja membuatkan tempat khusus yang terbuat dari besi. Ketika sudah kosong, maka si empunya akan mengisi kembali dengan air mentah, banyak juga yang menambahkan dengan es batu. Kebiasaan meminum air mentah seolah sudah mendarah daging bagi masyarakat Mesir. Tidak akan ada memasak air minum sebelum di minum dalam kamus hidup mereka. Dan mereka tidak sakit perut seperti minum air mentah di Indonesia. Jangan heran bila anda minta air putih di sebuah restoran akan di suguhkan air mentah yang belum dimasak! Bagi para dermawan yang memiliki ekonomi mapan biasanya mewakafkan sebuah tsalajah (alat pendingin air dengan motor bertenaga listrik) ditempat-tempat umum, terutama di depan masjid-masjid.

Memulai puasa, masyarakat Mesir umumnya membersihkan dan membenahi kembali rumah mereka agar Ramadhan terasa lebih hidup. Jalanan dan lorong-lorong juga akan kelihatan jauh lebih terang benderang dibulan Ramadhan dibandingkan hari-hari biasanya. Masyarakat sengaja merogoh saku mereka untuk menerangi para penjalan kaki dan pengguna jalan. Selain itu, mereka tidak lupa untuk memasang lampu Fanus baik didalam maupun diluar rumah. Kehadiran lampu Fanus di bulan Ramadhan merupakan sebuah fenomena masyarakat Mesir yang telah hidup bersamaan dengan bergulirnya sejarah Mesir dari dinasti Fathimy dengan khalifahnya Al Mu`iz li Dinillah. Fanus adalah lampu yang dirumahkan, mirip dengan tanglong (lampu Cina). Biasanya Fanus dibuat dari kaca tipis yang berwarna warni dan lilin didalamnya. Di kaca-kacanya ditulis bermacam kaligrafi yang cantik dan jelita. Lampu-lampu ini memang hanya wujud dibulan Ramadhan.

Sepanjang malam–malam Ramadhan, mesjid–mesjid, jalan–jalan dipenuhi oleh festival cahaya yang warna warni. Bagi anak–anak kecil suasana ini amat menyenangkan. Mereka biasanya bermain dijalan–jalan sambil menenteng Fanus dalam ukuran kecil dan menyanyikan lagu wahawi ya wahawi.  Meskipun didaerah perkotaan pemandangan seperti ini sudah jarang disaksikan saat ini, tapi dikawasan–kawasan miskin dan pedesaan dengan mudah dapat ditemukan. Layaknya lampu, pada awal Islam Fanus sebenarnya digunakan sebagai alat penerang pada malam hari untuk pergi ke mesjid atau mengunjungi kerabat. Tapi masa–masa selanjutnya fungsi Fanus berubah menjadi mainan dan hiasan.

Fenomena Fanus menjadi simbol luapan kebahagiaan mereka dengan datangnya bulan Ramdhan. Sehingga, lampu Fanus telah menjadi ciri khas dan karakteristik tersendiri bagi masyarakat Mesir dalam menyambut Ramadhan. Bahkan ada yang sampai patungan untuk membeli dan memasang lampu Fanus di jalan-jalan, di gang-gang atau diatas tanah-tanah kosong yang ada diantara dua apartemen. Saat Ramadhan tiba, para orang tua di Mesir juga membelikan anak-anak mereka lampu Fanus kecil. Lampu Fanus itu menjadi mainan yang sangat menyenangkan bagi mereka.

Fanus memiliki bermacam bentuk dan ukuran. Masing–masing memiliki nama tersendiri. Fanus yang paling kecil diberi nama Fanus ‘adi atau biz. Bentuknya persegi empat dan memiliki satu pintu yang dapat dibuka dan ditutup untuk meletakan lilin didalamnya. Panjangnya tak lebih dari 10 cm. Sementara Fanus yang paling besar dinamai kabir bi aulad. Bentuknya persegi empat dan pada bagian dasarnya tergantung Fanus – Fanus lain yang ukurannya lebih kecil. Ada juga yang bernama muqarnis atau mubazbaz yang berbentuk bintang besar.  Fanus yang berbentuk persegi, ada yang bagian atas dan bawahnya sama lebar dan ada juga berbentuk limas dengan bagian bawah lebih kecil dari bagian atas. Selain itu, ada juga Fanus yang berbentuk kereta api dan kendaran lainnya. Bentuk Fanus kadang juga dipengaruhi oleh peristiwa–peristiwa yang terjadi pada saat tertentu. Pada masa perang misalnya, muncul Fanus berbentuk tank, pesawat dan rudal.

Penduduk Mesir pertama kali mengenal Fanus Ramadhan pada 5 Ramadhan 358 H. Pada tanggal itu al-Muiz li Dinillah dari Dinasti Fathimiyah memasuki Kairo pada malam hari. Kehadiran al-Muiz disambut oleh warga Kairo dengan Fanus–Fanus dan teriakan selamat datang. Di tangan dinasti Fathimiyah inilah Fanus kemudian berubah dari fungsi aslinya sebagai penerang menjadi hiasan dan mainan. Pada Dinasti ini, anak–anak kecil mengelilingi jalan–jalan dan gang–gang meminta hadiah halawah (kue–kue manis) yang diciptakan oleh dinasti fatimiyah. Selain itu, mereka juga mengiringi musahharati membangunkan kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Sejak saat itu, Fanus identik dengan Ramadhan, mainan anak–anak dan lagu–lagunya.

Pada tahun–tahun terakhir muncul berbagai bentuk baru Fanus yang diimpor dari Cina dan Taiwan. Fanus–Fanus ini tidak lagi dibuat dari kaca, tapi dari plastik. Peran lilin pun telah digantikan oleh bolam yang dinyalakan dengan baterai. Ukurannya bermacam–macam, mulai dari yang sangat kecil yang bisa digunakan sebagai gantungan kunci, sampai ukuran yang sedang dan besar. Biasanya Fanus–Fanus ini berbentuk burung, masjid dan bentuk–bentuk lain yang menarik anak–anak. Fanus–Fanus ini dilengkapi dengan kaset kecil berisi lagu–lagu Ramadhan, do’a–do’a dan lagu-lagu populer.

Fanus ini mengandung filosofi. Selain sebagai ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan, Fanus juga sebagai perlambang bahwa lampu pada hakikatnya adalah sumber cahaya. Begitu juga dengan Ramadhan, kehadirannya diibaratkan sebagai lampu penerang dalam kehidupan kita. Setelah sekian waktu bergelut dengan kesibukan yang kadang mengaburkan pandangan kita. Kemudian datanglah ‘lampu Ramadhan’ yang bakal mengawal langkah kita menuju jalan yang lebih terang, dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan nama ‘Taqwa’

Kunafah dan Qathayif -hanya Ramadhan ku menemuimu

Diantara semakin banyak haalwiyar, kunafah dan qathayif menduduki tempat tersendiri pada bulan Ramadhan di Mesir. Kunafah terbuat dari gandum, gula, madu, kismis dan berbagai jenis kacang. Qathayif mirip Kunafah, hanya saja, berbeda dengan kunafah yang biasanya dipotong persegi empat, qathayif berbentuk bundaran – bundaran kecil yang dilipat dan diisi kismis dan kacang.  Pada awalnya, kunafah adalah makanan para khalifah. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa kunafah pertama kali dihidangkan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan ketika menjadi gubernur Syiria. Mu’awiyah menyantap kunafah pada saat sahur untuk mengantisipasi rasa lapar yang sering dialami pada siang hari.

Pada masa Dinasti Fatimiyah, kunafah menjadi salah satu dari sekian banyak halawiyat yang mereka buat. Sejak saat itu, orang–orang yang tidak pernah memakan kunafah pada hari–hari biasa, akan mendapatkannya dengan satu atau lain cara di bulan Ramadhan. Kunafah kemudian menjadi makanan yang identik dengan bulan Ramadhan pada masa Dinasti Ayyub, Mamluk, Otoman sampai masa sekarang. Kunafah tidak lagi di monopoli oleh para khalifah, tapi telah berubah menjadi makanan rakyat yang bisa dinikmati oleh yang kaya dan yang miskin.

Diantara yang menunjukan popularitas kunafah dan qathayif adalah kemunculannya dalam sastra Arab, khusus syair. Para Penyair pada zaman Umayah dan setelahnya menyebutkan kedua jenis halwah itu dalam puisi – puisi mereka. Ibnu Ar-Rumi dan Abu Husein Al-Jazar, bahkan Jalaluddin Abdurrahman bin Ubay As-Suyuthy dalam bukunya ‘Manhal al-allathaif fi kunafah wa al-Qathaif’ misalnya, terkenal gandrung dengan kunafah dan qathayif, dan melukiskan berbagai sisi kegandrungan mereka ini dalam untaian sajak dan puisi. Seminggu menjelang Ramadhan, para pembuat kunafah dan qathayif menyiapkan peralatan masak didepan toko mereka. Yang kebetulan berkunjung ke Mesir pada bulan Ramadhan tentu dapat menyaksikan pertunjukan membuat makanan khas Ramadhan ini secara langsung.

Mirip suasana ke-Indonesiaan

Ada beberapa masjid yang melaksanakan shalat tarawih dengan program kilat seperti yang kita temukan pada kebanyakan masjid di Indonesia. Shalat tarawih tidak terlalu lama karena ayat-ayat yang dibaca tidak terlalu panjang. Shalat dilaksanakan 8 raka’at dan 3 raka’at witir seperti yang dilaksanakan di masjid Nuri Khattab. Bagi kawan-kawan yang rindu suasana ke-Indonesiaan, biasanya lebih memilih untuk shalat dimasjid ini. Selain dekat dengan pemukiman dan suasana yang mirip ke-Indonesiaan, ceramah juga disampaikan oleh para Professor Doktor terkenal dari Al Azhar yang sangat mapan dibidangnya. Sebut saja pakar Hadits dan mantan rektor Al Azhar University, Prof. Dr. Omar Hasyim yang kerap kali memberikan ceramah di masjid ini.

Suasana yang sama juga akan anda ditemukan di Masjid Sayyidina Husen, yang diyakini menyimpan kepala cucu Nabi, Sayyidina Husen didalam kuburan yang berada diarah kiblat. Masjid yang berada di pusat tujuan tour, wisata domestik dan internasional ini shalat tarawih juga dilaksanakan lebih cepat dan disambung dengan kegiatan multaqa al- fikry al- islamy (seminar kajian keislaman).

Anda seolah benar-benar sedang berada di Indonesia apabila anda menyempatkan diri untuk shalat di Masjid Indonesia Cairo yang berada di Kawasan Dokki, diseberang sungai Nil. Untuk pelaksanaan tarawih di masjid Indonesia Cairo ini, akan Alnof khususkan pada judul tersendiri. Dinegeri para Nabi ini, kami tidak hanya merasakan budaya Arab yang kental, tetapi ada pilihan cita rasa nusantara sambil melepas rindu kepada tanah air.

Ramadhan di Masjid Indonesia Cairo (pulang kampung…he.. he..he)

Ketika anda menginjakkan kaki di Masjid Indonesia Cairo untuk melaksanakan Shalat Tarawih, maka seolah-olah anda sedang berada di Indonesia. Suasana di masjid ini disulap menjadi suasana ke-Indonesiaan. Kegiatan yang disuguhkan oleh panitia meliputi Shalat Isya’, ceramah, shalat tarawih, tadarus, penggalangan jama’ah, perlombaan dan pendidikan, serta pengumpulan zakat – infak – shadaqah.

Di masjid-masjid lain di Mesir, akan anda temui bahwa jarak antara adzan dan iqamah tidak terlalu lama, tetapi berbeda halnya dengan masjid Indonesia Cairo yang memberi jarak waktu agak panjang, karena menunggu kedatangan mahasiswa Indonesia yang berada di Nasr City. Untuk meramaikan kegiatan shalat tarawih, panitia menyediakan dua buah mobil antar jemput.

Pertama, sebuah mobil Toyota diperuntukkan bagi jama’ah yang berasal dari masing kekeluargaan (organisasi kedaerahan) yang ada di Cairo  secara bergantian atau jamaah dari bu’uts (islamic Mission City/ asrama mahasiswa asing yang disediakan oleh Al- Azhar).

Kedua, mobil Mitsubishi untuk semua masyarakat Indonesia di Mesir yang ingin mengikuti  jamaah shalat Isya dan Tarawih di Masjid Indonesia Cairo, dengan rute  sebagai berikut:

Madrasah berangkat pukul 19.20 - Halte Bawabah (Tenth Distrcit) – Manhal (Eighth District) – Masakin Usman - Masjid Nuri Khatab/Masjid Hijau (Seventh District) - KFC Rab’ah – Masjid Rab’ah (pada saat adzan isya’ mobil langsung berangkat menuju MIC di Dokki)

Setelah Shalat Isya dilanjutkan dengan ceramah atau dialog tanya jawab seputar masalah keagamaan. Kemudian dilanjutkan dengan sahalat tarawih 8 raka’at plus witir 3 raka’at dan tadarus bersama. Ada ketentuan tersendiri untuk ceramah dan tanya jawab yang Alnof paparkan dengan ringkas sebagai berikut:

Ceramah dan Tanya jawab selama 15 menit dengan ketentuan:

    1. Ceramah akan dilaksanakan  setiap hari Minggu, Senin, Selasa, dan Rabu, setelah shalat isya’ (urutannya shalat isya’ – ceramah – shalat tarawih – tadarus dan ramah tamah)
    2. Tanya jawab akan dilaksanakan setiap hari Kamis dan Jum’at setelah shalat tarawih (urutannya  shalat isya’ – shalat tarawih – Tanya jawab – tadarus & ramah tamah)
    3. Kegiatan  tanya jawab akan disiarkan secara langsung dengan radio berbasis internet

Suasana yang sangat hangat dan terasa ke-Indonesiaannya adalah Ramah tamah dilaksanakan setelah shalat tarawih dilapangan bulutangkis yang berada disamping masjid dengan mencicipi makanan yang telah disediakan oleh donatur, yaitu berupa makanan ringan lebih kurang 200 sampai 250 porsi selama 1 kali dalam bulan Ramadhan. Donatur biasanya para pejabat kedutaan dan pengusaha atau masyarakat Indonesia yang berekenomi sangat mapan di Kairo. Apabila anda ingin merasakan bakso urat, Lontong, sate madura, soto Lamongan sempatkanlah untuk menuju Masjid Indonesia Cairo. Dulu, pernah diadakan pencabutan undian yang berhadiah amplop berharga bagai yang beruntung. Dana bersumber dari pajabat kedutan dan donator yang disebutkan tadi. Anugerah tersendiri bagai mahasiswa untuk membantu eknomi harian dalam menyelesaikan proses studi. Panita juga memfasilitasi dan membantu  jama’ah yang ingin mengadakan makanan buka puasa bersama di masjid Indonesia Cairo.

Kegiatan perlombaan akan dilaksanakan pada minggu ke-2 bulan Ramadhan selama 2 hari. Untuk tingkat  anak-anak dan remaja meliputi; hafalan surat pendek, hafalan do’a, hafalan bacaan shalat, pidato dan memimpin do’a. Sedangkan kegiatan pendidikan berupa cerita oleh pembimbing selama  satu bulan penuh pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan dilantai 4 Sekolah Indonesia Cairo yang waktunya bersamaan dengan shalat isya’ dan tarawih, untuk anak anak usia dibawah 6 tahun

Selama Ramadhan, panitia juga meghimpun Zakat – Infak – Shadaqah yang dilaksanakan secara terpadu. Untuk seluruh masyarakat Indonesia di Mesir yang dilaksanakan oleh panitia Ramadhan Masjid Indonesia Cairo bekerjasama dengan BWAKM (Badan Wakaf dan Amal Kesejahteraan Mahasiswa) dan akan dibagikan kepada mahasiswa Indonesia yang dilihat sangat membutuhkan dengan mengkaji skala prioritas perekonomian dan kebutuhan. Karena populasi mahasiswa Indonesia di Mesir sudah mencapai angka 5000-an orang.

10 hari terakhir Ramadhan dan I`tikaf

Di Mesir, memasuki pertengahan Ramadhan atau 10 malam terakhir, pelaksanaan ibadah dimalam hari akan ditambah dengan tahajjud berjama’ah. Seluruh masjid juga mengadakan i`tikaf ketika sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Di masjid akan dibuat sekat-sekat untuk menjadi tempat jamaah yang beri`tikaf sehingga tidak membuat pemandangan kurang bersahabat di masjid. Hal ini dimaksudkan agar terkesan lebih rapi dan menjaga kehormatan para tamu Allah yang sedang i`tikaf. Bagi masjid yang mempunyai ruangan lain atau sengaja didesagin untuk i`tikaf, maka akan segera penuh diisi oleh masyarakat Mesir dan para pelajar asing. Sebut saja masjid As-salam yang lebih diminati oleh mahasiswa dari tanah melayu, jazirah Arab, Afrika dan Eropa. Hal ini karena posisinya yang berada di tenth district Nasr City dekat dengan pemukiman yang di huni oleh mayoritas pelajar asing.

Selama i`tikaf, untuk ifthar dan sahur jama’ah yang ikut i`tikaf umumnya ditanggung oleh masjid dengan dana yang bersumber dari masyarakat dan bantuan pemerintah. Kalaupun ada pungutan, paling-paling hanya sebagai simbolis dan tentunya dalam jumlah yang relatif kecil kecil. Terutama bagi para pelajar asing yang berminat untuk mengikuti i`tikaf. Kegiatan yang diadakan memang agak berbeda, kesabaran mereka untuk menahan diri di masjid dan banyak menggunakan waktu untuk ibadah menjadi kelebihan yang sangat menonjol. Disamping itu, ada kajian keilmuan, latihan kesabaran dalam berinteraksi dengan para peserta i`tikaf dari puluhan negara yang menyatu dengan berbagai warna kulit, ras, kepribadian dan tingkah polah. Semuanya menjadi satu dalam wadah islam.

Saat i`tikaf Pelaksanaan tahajjud biasanya dimulai jam 01.00 dini hari sampai saat waktu sahur. Saat tahajud semua lampu masjid dimatikan, hanya disisakan lampu dibagian belakang tempat jama`ah membuat base camp dan lampu-lampu menuju kamar mandi sebagai penerang untuk pergi berwudhu`. Dalam tahajjud umumnya para imam menamatkan 2,5 – 4 juz Al-Qur`an. Dengan suasana keremangan cahaya nikmatilah indahnya Kalamullah dan resapilah sambil menangis bersama syahdunya bacaan imam yang bersuara merdu. Apabila disaat ratusan jamaah sesenggukan dan melolong berderai airmata penyesalan, airmata anda tidak sudi untuk menganak sungai dan hati tak pernah tergetar, kembalilah bertanya! Ada apa dengan hatiku? Masihkah aku dekat dengan Mu ya Allah? Sungguh sangat terasa Ramadhan sebagai bulan Qur`an.

Lailatul Qadar dan do`a panjang Syaikh Jibril

Suasana yang mengharukan dan menakjubkan akan terasa kental sekali dengan kehadiran Syaikh Jibril di Masjid Amru bin `Ash yang berlokasi di Fustat Old Misr. Masyarakat datang dari seluruh pelosok kota untuk shalat di masjid pertama di Mesir dan benua Afrika ini. Masjid yang dibangun di masa khalifah Umar bin Khatab dibawah gubernur panglima `Amru bin Ash. Jama’ah yang hadir bisa mencapai puluhan ribu orang. Masjid penuh sesak dan jalan raya yang berada di depan masjid akan terisi oleh jama’ah sepanjang setengah kilometer dari bangunan masjid.

Masyarakat datang kemasjid ini untuk menikmati shalat tarawih dan untaian do’a Syaikh Jibril yang sangat panjang dan syahdu disaat witir malam 27 Ramadhan. Jama’ah akan sesengukan dengan deraian airmata. Malam itu memang hanya akan ada rintihan dan lolongan yang disertai banjir airmata dari puluhan ribu jama’ah yang ikut shalat. Tangisan yang berdurasi lebih dari satu jam ini adalah penyesalan dihadapan Sang Pengampun dan harapan kepada Sang Pengasih dan Sang Penyayang. Imam muda dengan suara emas dan tangisannya yang mampu menyihir puluhan ribu masyarakat ini memang hanya khusus didatangkan setiap malam 27 Ramadhan. Sudah menajdi tradisi tahunan masjid tertua di Mesir ini. Menangis saat mendengarkan ayat atau do`a qunut yang dibacakan oleh imam saat shalat, sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Mesir di dalam dan diluar bulan Ramadhan.

Apabila anda ingin menikmati dan terlibat dalam suasana ini, anda harus meninggalkan rumah sejak waktu zhuhur. Anda harus sudah berada di lokasi selambat-lambatnya saat shalat ashar. Itu pun masih akan ada kemungkinan anda akan shalat di halaman masjid atau disepanjang jalan. Masyarakat datang dengan keluarga atau sahabat lengkap dengan perbekalan untuk ifthar dan makan berat yang sudah disediakan dari rumah.

Tilawah dan shalat jamaah di bulan Ramadhan

Belakangan ini barangkali sudah menjadi hal yang lumrah bagi anda ketika melihat anak-anak muda berjenggot memakai baju koko dan mengenakan peci sedang asyik menikmati tilawah alqur`an dari sebuah mushaf kecil yang dipegangnya dan bisa disakukan. Terutama sejak muncul dan gencarnya dakwah di kampus-kampus melalui kegiatan mentoring, liqo` mingguan dan berbagai kelompk dakwah yang masuk kampus. Suasana ini bukanlah hal yang baru di Mesir, justru suasana yang baru terjadi di Indonesia ini menjadi sebuah susana yang secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan masyarakat Mesir.

Bila dulu setiap anak kecil sudah dibimbing oleh orangtuanya untuk menghafal Al Qur`an 30 juz dirumahnya atau dengan bimbingan para syaikh, hari ini suasana itu sudah mulai berubah. Dulu, anak usia 4 tahun sudah dilepas orangtuanya untuk pergi ke masjid dan ke kuttab-kuttab (semacam surau di minang) untuk ditalqinkan (diktekan) ayat Al-Qur`an dan dihafalkan, meskipun mereka belum bisa membaca. Sehingganya banyak diantara mereka yang sudah hafal 30 juz Al Qur`an dalam usia sangat relatif muda, 7 sampai denagn 12 tahun dan hafalan mereka sanagt kuat sampai usia lanjut. Hari ini tradisi yang sudah berlangsung lama itu sudah banyak ditinggalkan. Bahkan kuttab-kuttab sudah banyak yang ditutup karena tidak ada lagi muridnya.

Wajar saja ada pameo, “Al-Qur`an diturunkan di Makah, d baca di Mesir dan dihafal di Pakistan”. Tak bisa dipungkiri oleh sejarah bahwa Al Qur`an diturunkan kepada Rasulullah pertama sekali di gua Hira yang berada di Mekkah, selanjutnya islam dibawa keseluruh negeri, sehingganya banyak orang non-arab yang lebih giat mendalami islam dibanding orang arab asli. Wajar dalam sejarah kita menangkap kesan bahwa orang arab terkenal hebat di medan tempur tapi orang non-arab menjadi jawara di medan ilmu pengetahuan. Imam bukhari adalah seorang yang berasal dari daratan Rusia, Imam muslim yang dari Naisabur, Imam Abu Hanifah dari Iraq, Imam Al-Ghazali dari Thus. Masih banyak dalam literatur islam yang mencatat deretan ilmuwan yg bukan dari tanah Arab dan bukan keturunan Arab. Tapi, jangan anda tanyakan kehebatan orang arab di medan perang! Di Mesir, sejak dulu bermunculan para Qari (ahli Qiraah) yang menjadi rujukan dunia islam sampai hari ini. Sebut saja Mustafa Ismail, Said Mutawalli, Abdul Basith Abd Shamad, dll.

Hari ini budaya menghafal Al- Quran lebih digandrungi oleh masyarakat dan anak-anak di Pakistan. Adalah suatu kebanggan bagi mereka untuk menghafal Al- Qur`an dibanding kebanggaan yang lain. Orang-orang tua akan sangat bangga apabila anaknya sudah hafal Al- Qur`an. Padahal mereka bukan orang arab layaknya orang Indonesia yang tidak pernah berbicara dalam bahasa arab kecuali anak-anak pesantren, madrasah, mahasiswa dan kalangan intelektual.

Memasuki Ramadhan, suasana Al- Qur`an akan masih sangat kental bila dibandingkan dengan di Indonesia. Meskipun kegandrungan masyarakat Mesir untuk menghafal sudah menurun. Anda akan menemukan masyarakat yang mengaji dimana pun tempatnya. Jangan heran bila melihat ada seorang tukang parkir yang asyik menikmati tilawahnya saat menunggu mobil yang datang dan pergi, bahkan masih sempat berkomat kamit ketika melayani kendaraan yang keluar masuk. Di bawah tangga-tangga apartemen biasanya dibuatkan sebuah ruang kecil untuk tempat tingal bawwab (penjaga apartemen), saat Ramadhan mereka akan asyik menikmati tilawah Al-Qur`an.

Bepergian dengan mobil umum misalnya, anda kembali harus berdecak kagum mendapati seorang gadis cantik, muda, berparas Turki dan berpostur Eropa tenggelam dalam keasyikan membaca mushafnya. Tidak jauh dari tempat duduknya anda bisa melihat seorang anak muda berdada bidang, kumis tipis, berjenggot dan jambang menawan, bermata elang dan mengenakan jas rapi dilengkapi dasi, salah satu tangannya sedang menggelayut dibesi untuk berpegang para penumpang yang berdiri karena mobil yang penuh sesak, di salah satu tangannya ada mushaf yang sejak tadi sibuk dibacanya.

Saat anda membeli kebutuhan harian di pasar, anda kaan menemukan ibu-ibu yang sudah uzur dengan kaca mata tebal dan kumal karena kotoran yang sudah sulit dibuang dengan air dan sabun sedang membolak-balik mushafnya ketika pembeli tidak ada. Kemanapun anda pergi akan mendapati orang sibuk dengan sebuah mushaf ditangan atau mulut mereka komat-kamit melafalkan ayat-ayat Allah. Diluar Ramadhan pun masih didapati suasana seperti ini, meskipun tidak sesibuk dan seindah pemandangan dibulan Ramadhan.

Barangkali anda akan mengira sedang ada pembagian sembako gratis atau penyaluran BLT dari SBY dimasjid-masjid saat waktu shalat fardhu masuk dan adzan dikumandangkan, karena melihat kaum pria tergesa-gesa menuju masjid seolah ada yang mereka kejar. Memang ada yang mereka kejar, tapi sesuatu yang tak tertangkap oleh indra. Mereka berduyun-duyun menuju tempat wudhu dan berlomba-lomba mencari shaf terdepan. Inilah jawaban yang tepat dari perkiraan anda. Tilawah Al- Qur`an dan shalat Jama’ah, dua pemandangan menakjubkan yang dirindukan umat sepanjang masa, tetapi hanya Ramadhan yang mampu mengembalikan suasana yang didamba umat ini.

Kajian keilmuan selama Ramadhan

Sudah menjadi tradisi tersendiri bagai al Majlis al A`la li al syu`un al Islamiyyah (Majlis tertinggi untuk urusan keislaman) untuk mengadakan Multaqa al Fikry al Islamy (seminar kajian keislaman). Cara yang digelar sebagai penambah ilmu dan wawasan umat tentang islam dan peradabannya. Acara ini juga memperkuat karateristik kebangsaan masyarakat Mesir yang dilihat dari kaca mata islam. Sebuah Negara dan bangsa yang tidak terbatas oleh teritorial, hanya ada agama yang membatasi. Acara yang sudah berlangsung lebih dari 25 tahun ini selalu digelar di dalam sebuah tenda yang didirikan di halaman masjid Sayyidina Hussain yang berada berseberangan jalan dengan masjid Al– Azhar.

Acara ini sangat berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan di masjid Al- Azhar. Dari awal berdiri, masjid Al- Azhar sampai saat ini masih dipertahankan budaya talaqqi untuk mengkaji keilmuan islam klasik dari sumber-sumber turats (kitab kuning). Semua ilmu diajarkan oleh para syaikh dimasjid ini. Mulai dari ilmu tauhid, kebahasaan dan kesustraan arab, matematika, fiqh sampai ilmu kedokteran. Mereka membuat halaqah dengan seorang Syaikh ditiang-tiang masjid Al- Azhar dan ruwaqnya. Kegiatan talaqqi yang menjadi kesibukan dan rutinitas harian di ruwaq-ruwaq (ruang yang disediakan untuk belajar dibagian dalam masjid Al -Azhar) justru diliburkan sejak 15 Sya`ban sampai dengan 15 Syawal setiap tahunnya. Sudah menjadi tradisi bagi para syaikh dan pelajar Al- Azhar untuk mengkhususkan Ramadhan dengan ibadah dan tilawah. Para pelajar domestik bisa pulang ke kampung mereka membawa risalah Al- Azhar. Masyarakat dan para pelajar pendatang bisa menikmati Ramadhan bersama penduduk setempat.

Multaqa al Fikry al Islamy untuk Ramadhan kali ini dibuka secara resmi oleh Menteri Urusan Wakaf